Rabu, 25 November 2020

SENYAWA TURUNAN STEROID

Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh dengan 17 atom karbon dan 4 cincin. Senyawa yang termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol, progesteron, estrogen dan lain-lain.

Struktur Senyawa Steroid dan Kereaktifannya


  Pada steroid Perbedaan dalam satu kelompok tergantung pada Panjang subtituen R1, Gugus fungsi subtituen R1, R2, dan R3, Jumlah dan posisi ikatan rangkap, Jumlah dan posisi oksigen serta Konfigurasi pusat asimetris inti dasar.

Pada umunya steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17 atom karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin. Beberapa steroid bersifat anabolik, antara lain testosteron, metandienon, nandrolon dekanoat, 4-androstena-317-dion. Steroid anabolik dapat mengakibatkan sejumlah efek samping yang berbahaya, seperti menurunkan rasio lipoprotein densitas tinggi, yang berguna bagi jantung, menurunkan rasio lipoprotein densitas rendah, stimulasi tumor prostat, kelainan koagulasi dan gangguan hati, kebotakan, menebalnya rambut, tumbuhnya jerawat dan lain-lain. Secara fisiologi, steroid anabolik dapat membuat seseorang menjadi agresif.


Klasifikasi Senyawa Steroid Pada Makhluk Hidup


Kolesterol

Kolesterol merupakan molekul biologis yang sangat penting yang memiliki peran dalam struktur membran serta menjadi prekursor untuk sintesis hormon steroid, asam empedu, dan vitamin D. Sintesis dan pemanfaatan kolesterol harus diatur secara ketat untuk mencegah akumulasi berlebih dan pengendapan abnormal di dalam tubuh. Kepentingan klinis khusus adalah pengendapan abnormal kolesterol dan lipoprotein kaya kolesterol   di arteri koroner. Kolesterol terbentuk dari lanosterol setelah terjadi penyingkiran tiga gugus metil dari molekul lanosterol yakni dua dari atom karbon C-4 dan satu dari C-14.

 

 

Sedikit kurang dari separuh kolesterol dalam tubuh berasal dari biosintesis  de novo. Biosintesis di hati menyumbang sekitar 10%, dan di usus sekitar 15%, dari jumlah yang diproduksi setiap hari. Jalur biosintesis kolesterol melibatkan enzim yang berada di dalam sitoplasma, mikrosom (ER), dan peroksisom. Sintesis kolesterol, seperti kebanyakan lipid biologis, dimulai dari gugus dua karbon asetat asetil-KoA. Langkah awal dalam jalur biosintesis kolesterol secara kolektif disebut jalur mevalonat yang memuncak dengan sendirinya dengan sintesis molekul isoprenoid, isopentenil pirofosfat (IPP). Asetil-KoA yang digunakan untuk biosintesis kolesterol berasal dari reaksi oksidasi. 

 

Ergosterol

Ergosterol adalah sterol yang ditemukan dalam jamur, dan nama ergot merupakan sebuah nama umum untuk anggota genus jamur Claviceps dari ergosterol yang pertama kali diisolasi. Ergosterol tidak terjadi pada sel-sel tumbuhan atau hewan. Ergosterol kadang-kadang dilaporkan analitis terjadi di rumput seperti rye dan alfalfa (termasuk kecambah alfalfa), dan tanaman bunga seperti hop. Namun, deteksi seperti biasanya diasumsikan deteksi pertumbuhan jamur pada tanaman, seperti jamur merupakan bagian integral dari sistem pembusukan rumput. Teknik uji ergosterol dapat digunakan untuk uji rumput, biji-bijian, dan sistem pakan untuk konten jamur. 

 

Progesteron

Progesteron merupakan hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus ovulasi, menstruasi, membantu implantasi hasil pembuahan, dan mempertahankan kehamilan. Tesaurus NCI (NCIt) Progesteron adalah hormon steroid C21 di mana kerangka kehamilan membawa substituen okso pada posisi 3 dan 20 dan tidak jenuh pada C (4) -C (5). Sebagai hormon, terlibat dalam siklus menstruasi wanita, kehamilan dan embriogenesis manusia dan spesies lainnya. Yang berperan sebagai obat kontrasepsi, progestin, agonis reseptor progesteron, metabolit manusia dan metabolit tikus. 

 

Estrogen

Estrogen adalah salah satu hormon seks yang berperan sangat penting bagi wanita. Estrogen merupakan hormon steroid (punya kerangka inti yang sama seperti kolesterol) dan dibentuk terutama dari 17-ketosteroidnandrostenedion. Estrogen ternyata terdiri dari tiga jenis, yaitu 17β-estradiol (E2), estron (E1), dan estriol (E3). 17β-estradiol merupakan hormon yang paling dominan karena paling banyak terdapat dalam tubuh dan aktivitasnya paling tinggi.

 

Testosteron

Testosteron adalah hormon yang diproduksi di kelenjar adrenal, yang berfungsi sebagai kinerja anabolik steroid, pengaturan libido, energi, sistem kekebalan tubuh dan perlindungan terhadap osteoporosis (Ganiswarna, 2002: 16). Rata-rata laki-laki sehat akan memproduksi 2 sampai 10 miligram testosterone dalam setiap harinya. (perempuan juga memproduksi testosteron tetapi dalam jumlah yang sangat kecil).

Diketahui bahwa senyawa β-sitosterol mampu menghambat kerja enzim yang mengkonversi testosterone menjadi dehidrotestosteron (DHT) yang merupakan penyebab terjadinya kanker prostat (Renai Sante, 2004). Selain itu menurut Yuk (2007), β-sitosterol merupakan senyawa yang efektif digunakan dalam penyembuhan penyakit asma, sehingga memungkinkan senyawa ini untuk dikembangkan sebagai obat terapi penyakit alergi. 

Salah satu turunan dari testoteron yaitu testosteron C- I7 alkil. Dimana Bentuk ini larut dalam air dan dapat masuk melalui mulut, jadi dalam bentuk pil danaktif'secara oral. Contohnya adalah stanozolol yang dipakai oleh Ben Johnson. Oleh karena larut dalam air, waktu yang diperlukan untuk membersihkan tubuh dari bahan tersebut dapat dikatakan singkat. Kebanyakan obat bentuk oral dapat bersih dari tubuh dalam waktu 3-4, minggu. Meskipun demikian harus diingat bahwa waktu bersihan dipengaruhi oleh dosis obat, berat badan atlet dan frekuensi pemakaian (Moeloek, 2005:8).


Metandienon

Molekul Methandienon mengandung total 53 ikatan Ada 25 ikatan non-H, 3 ikatan rangkap, 3 ikatan rangkap, 1 cincin beranggota lima, 3 beranggota enam cincin (s), 1 cincin beranggota sembilan, 2 cincin beranggota sepuluh, 1 keton (alifatik), 1 gugus hidroksil dan 1 alkohol tersier.


Nandrolon Dekanoat

Nandrolone Decanoate adalah bentuk garam decanoate dari nandrolone , analog steroid anabolik dari testosteron dengan efek stimulasi androgenik, anabolik, dan eritropoietin. Nandrolone memasuki sel dan mengikat dan mengaktifkan reseptor androgen nuklir spesifik di jaringan responsif, termasuk prostat, vesikula seminalis, skrotum, penis, laring, folikel rambut, otot, dan tulang. Kompleks reseptor hormon teraktivasi yang dihasilkan berpindah tempat ke dalam nukleus dan mengikat ke elemen respons androgen (ARE) di wilayah promotor gen target, di mana kompleks tersebut mendorong ekspresi gen yang diperlukan untuk mempertahankan karakteristik jenis kelamin pria. Meniru mekanisme umpan balik negatif testosteron, nandrolone decanoate juga menekan sekresi luteinizing hormone (LH). Lebih lanjut, agen ini juga menstimulasi produksi eritropoietin dengan meningkatkan produksi faktor stimulasi eritropoietik.

 

Video terkait :



PERMASALAHAN :

1. Kolesterol terbentuk dari lanosterol setelah terjadi penyingkiran tiga gugus metil dari molekul lanosterol yakni dua dari atom karbon C-4 dan satu dari C-14. Bagaimana proses berlangsungnya Penyingkiran ketiga gugus metil ini ?

 

Rabu, 18 November 2020

SAR ALKALOID INDOLE


Alkaloid indol merupakan kelas alkaloid yang mengandung sebagian struktural indol banyak alkaloid indol juga termasuk gugus isoprena dan dengan demikian disebut terpene indole atau alkaloid tryptamine secologanin. Mengandung lebih dari 4100 senyawa berbeda yang diketahui, ini adalah salah satu kelas alkaloid terbesar. [1] Banyak dari mereka memiliki aktivitas fisiologis yang signifikan dan beberapa di antaranya digunakan dalam pengobatan. Triptofan asam amino adalah prekursor biokimia dari alkaloid indol.

Indol ada di mana-mana dalam berbagai senyawa bioaktif alkaloid serta bahan kimia pertanian dan farmasi.Sistem cincin indol 1 adalah bagian struktural yang berharga berbagai kegiatan farmakologis seperti, antihis-taminic [1], antijamur [2], antimikroba [3], antioksidan [4],zat pengatur tumbuh [5], anti-HIV [6], antikonvulsan [7],anti-inflamasi dan analgesik [8] dll . Indoles mungkinmenempati salah satu komponen terpenting di antara heterocycles dalam penemuan obat [9]. Alkaloid indol seperti triptofan 2 terkenal pentingnya nutrisi bagi hewan dan manusia.Serotonin 3 adalah neurotransmitter penting pada hewan dan Reserpin 4 digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan sebagai aobat penenang. Penggunaan Mitomycin 5 dan turunannya dikemoterapi kanker sudah mapan dan selanjutnya Indole-Asam 3-asetat 6 sebagai heteroauxin (hormon pertumbuhan tanaman).


Adolf von Baeyer pada tahun 1866 dapat diperoleh indol dari oksindol dengan menggunakan debu seng [18].Kemudian dia mengusulkan struktur molekul indol [19] in1869. Sintesis Fischer Indole, yang dilaporkan untukpertama kali pada tahun 1883 [20] dianggap sebagai cara terbaik terbaikuntuk sintesis indoles. Arilhidrazon tautomerisasi menjadienehidrazin dalam kondisi asam untuk menjalani [3,3] -penataan ulang sigmatropik yang mengarah ke fungsionalisasiposisi C – H aromatik yang tidak aktif. Tautomeriza- lainPenukaran dan pertukaran imina memberikan indol. Baru-baru ini, ascor-asam bic telah digunakan sebagai reduktor untuk mengubah arildia-garam zonium menjadi hidrazin. Dimana oksalil hidrazida beradadigunakan dalam reaksi Fischer sebagai pengganti hidrazin,metode ini dikenal untuk sintesis eletriptan 11 [21].

Aktivitas Biologis Alkaloid Indole

1. Agen Anti-inflamasi dan Analgesik

Obat anti inflamasi juga dikenal sebagai non steroidobat anti-inflamasi (NSAID) yang menghambatenzim clooxygenase (COX) dan prostaglandin pada manusia tubuh sehingga mengurangi peradangan. Turunan indole tersebut karena indometasin dan melatonin dikenal sebagai penghambatCOX-1,2 dengan produksi radikal bebas dan kekebalan efek modulasi masing-masing [26, 27]. Aktivitas pemulungan obat anti-inflamasi terhadap spesies oksigen reaktif(ROS) mungkin memiliki kepentingan terapeutik yang sangat besar. Rad-wan et al. , melaporkan bahwa senyawa 14 (Gambar 4 ) dimilikianti-inflamasi (aktivitas 44,4%) serta analgesik ac-tivitas 68,6% [28]. Serangkaian hibrida indol-oksazoldiuji untuk aktivitas anti-inflamasi mereka terhadap mobil-edema rageenan diinduksi pada tikus albino dengan dosis50 mg / kg melalui mulut. Alkaloid indol seperti brucine dan brucine-N-oxide juga dilaporkan menunjukkan sifat analgesik dan anti-inflamasi yang signifikan.

Di antara senyawa yang diuji, senyawa15 menunjukkan anti-inflamasi yang kuat dari 53,3% danalgesik 51,4% [29]. (2-klorofenil) (1-fenil-2,3-dihydropyrazolo [3,4- b ] indol-8 (1 H ) -yl) methanone 16 adalah juga dilaporkan menunjukkan anti-inflamasi dan analgesik.


Kemajuan Terbaru dalam Aktivitas Biologis Alkaloid Indole dari Senyawa 17a dan 17b , hasil persilangan indol-imidazolidinone dilaporkan menunjukkan anti-inflamasi aktivitas sebanding dengan indometasin dengan dosis 3 mg / kgdan 10 mg / kg masing-masing [31]. Senyawa indol baru mengandung pyrazole 18 juga dilaporkan memiliki anti-aktivitas inflamasi dengan nilai IC 50 sebesar 48 µM sebagai pembandingmenjadi indometasin [32]. Shaveta dkk., melaporkan sintesis tersebut turunan oksoindol yang ditunjukkan oleh senyawa 19penghambatan yang cukup dan selektivitas untuk COX-2 berakhirCOX-1. Senyawa 19 pada konsentrasi 5 mg / kg mereduksijumlah penjilatan kaki karena rasa sakit yang diinduksi capsaicintikus albino sebesar 76% dibandingkan dengan 68% penurunan pada us-mengonsumsi diklofenak pada konsentrasi 25 mg / kg yang merupakan dikatif aktivitas analgesik yang lebih baik dari senyawa 19 dari pada itudari diklofenak [33]. Sekali lagi, Ozdemir dkk. , [34] dilaporkan di-turunan chalcone berbasis dole dan diuji untuk penghambatan COXtion, senyawa 20 memiliki IC 50 nilai dari 8,1 ± 0,2 mg / mLditemukan sebagai penghambat COX-1 yang paling efisien danCOX-2 dengan nilai IC 50 9,5 ± 0,8 mg / mL sebagai perbandingan untuk indometasin.

2. Aktivitas Anti-mikroba

Terjadinya infeksi mikroba yang cepat telah menyebabkan meningkatkan angka kematian secara substansial, terutama yang menderita-menderita kanker, tuberkulosis atau defisiensi imun yang didapat sindrom (AIDS). Infeksi mikroba saja sudah diperhitungkan setiap 13 juta kematian setiap tahun secara global [35]. Sementara sev-obat antimikroba eral tersedia di pasar, kemampuan mikroba dalam mengembangkan strain mutan bersama dengan resistensi obat-tance [36], kekosongan khusus dan spektrum sempitrintangan utama dalam terapi mikroba saat ini. Akibatnya, filecari novel lain yang efisien, tidak beracun, dan tepat sasaranAgen antimikroba sangat penting untuk saat inipengobatan obat. Sintesis spirooxindoles dan inaktivitas anti-mikroba vitro terhadap Staphylococcus epider-midis, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Aspergil-lus niger dalam nilai konsentrasi hambat minimum (MIC)dengan metode difusi cakram dilaporkan oleh Nanda kumar et al. ,[37]. Senyawa 21 menunjukkan penghambatan yang baik terhadap S. epi-dermidis, S. aureus, B. subtilis dan A. niger pada perbandingandengan referensi standar. Selanjutnya, hibrida indol-pyran-dicarbonitrile 22 dilaporkan untuk mengungkapkan kuat in vitro antiaktivitas bakteri terhadap S. Aureus (12,4 MIC) , Bacilluscereus (16.4MIC) , Escherichia coli (16.5MIC) , Klebsiellapneumonia (16.1MIC) [38]. Singh dkk. , [39] melaporkansintesis indoles tersubstitusi N-1, C-3 dan C-5 dan evaluasi-untuk aktivitas antijamur pada Candida albicans dan antibac-aktivitas terial di Escherichia coli. Senyawa 23 ditemukanmenjadi agen antimikroba yang menjanjikan. Minvielle dkk. , punyamenyelidiki penggunaan turunan desformylflustrabromineuntuk menghasilkan mimetik indol yang sangat aktif. Hasilnya-turunan dole diperiksa untuk mengetahui aktivitas anti-bakterimelawan E. coli, Acinetobacter baumannii dan S. aureus .Senyawa 24 menunjukkan aktivitas antibakteri yang sangat baik [40].Song et al. , Merancang dan menguji aktivitas antijamur 2-indole-3-yl-thiochroman-4-one turunan, dari data itudilaporkan bahwa senyawa 25 menunjukkan MIC yang baikCryptococcus neoformans [41]. Senyawa indol pra-dikupas menggunakan Enoxastrobin dievaluasi secara in vitroaktivitas fungisida terhadap Pyricularia oryzae dan Botrytiscinerea dengan konsentrasi 25 mg / L, menunjukkan bahwa kom-pound 26 memiliki aktivitas yang sangat baik di antara sin-seri berukuran [42], (Gbr. 5 ).

3. Aktivitas Anti-HIV

Human immunodeficiency virus (HIV) dikonfirmasi sebagaiagen jahat dari sindrom imunodefisiensi didapat(AIDS) pada tahun 1983 [43]. Pada 2010, sekitar 34 juta orangdi seluruh dunia terinfeksi HIV, terhitung 3,4 juta anakdren di bawah 15 tahun dan baru terinfeksi 2,7 juta orangple [44]. Dengan demikian, kemajuan agen anti-HIV yang efektifperlu menekankan pada bagian struktural baru dengan spesifikmekanisme. Indoles menunjukkan aktivitas anti-HIV yang luar biasadan ilmuwan terus melaporkan penemuan baru ini.Derivatif indole-piperazine baru disintesis olehMeanwell dkk. , dan diperiksa untuk aktivitas antivirus. 



Dari semuasenyawa yang diuji, senyawa 27 menunjukkan potensi antivi-aktivitas ral melawan virus HIV-1 [45]. Dalam laporan lainWanga dkk. , menyatakan bahwa modifikasi atau penggantian filecincin piperazine membuat penghambat HIV-1 dengan nilai yang lebih rendahterkecuali senyawa 28 yang hampir samake prototipe 27 [46]. Hibrida dari fenilfosfinat-indoles dikenal sebagai non-nucleoside reverse transcriptaseinhibitor (NNRTI) [47]. Dari semua hy- yang baru disintesispengantin menggunakan hubungan fosfor yang berbeda, senyawa 29menunjukkan potensi yang kuat melawan HIV-1 selain vi-rusuk bearing Y181C dan K103N dengan EC 50 yang wajaraktivitas (0,68-10,1 nM). Dengan substituen siklik di indole-2-karboksamida dihubungkan melalui pertunjukan spacer hidrokarbonpenghambatan yang kuat dari replikasi HIV-1 WT di CEM dansel mononuklear darah tepi (PBMC) dengan penghambatankonsentrasi (IC). Kelas turunan indol dengan tri-flouromethyl dirancang dan dilaporkan oleh Jiang et al. , untukaktivitas anti-HIV-1 mereka [51]. Senyawa 33 menunjukkan potensikegiatan tial melawan WT HIV-1 yang sebandingEfavirenz tetapi lebih unggul dari Nevirapine. Lebih lanjut, Ashok et al. ,[52] menyiapkan serangkaian turunan indol-tiofen untuktes anti-HIV-1. Diantaranya, senyawa 34 dihambatHIV-1 IIIB (C8166) dengan EC 50 1.1 μM, (Gbr. 6 ).


Video terkait :

https://youtu.be/eAuUDFmD2Gk


PERMASALAHAN :

1. Obat anti inflamasi juga dikenal sebagai non steroidobat anti-inflamasi (NSAID) yang menghambatenzim clooxygenase (COX) dan prostaglandin pada manusia tubuh sehingga mengurangi peradangan. Serangkaian hibrida indol-oksazoldiuji untuk aktivitas anti-inflamasi terhadap mobil-edema rageenan diinduksi pada tikus albino dengan dosis50 mg / kg melalui mulut. Nah, selain hibrida indol-oksazol, Alkaloid indol seperti brucin-N-oxide juga menunjukkan sifat anti-inflamasi yang signifikan. Nah, Bagaimana aktivitas biologis Brucin-N-oxide ini sebagai obat anti-inflamasi ?

Senin, 09 November 2020

SAR ALKALOID PYROLIDINE


    Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan. Jika dilihat dari jenis cincin heterosiklik nitrogennya maka alkaloid dapat dikelompokkan sebagai, alkaloid pirolidin, piperidin, piridin, kuinolin, isokuinolin dan alkaloid indol, sebagaimana ditunjukkan di bawah ini. 


Alkaloid Pirolidin

   Alkaloid golongan pirol dan pirolidin, yaitu alkaloid yang mengandung inti pirol dan pirolidin dalam struktur kimianya. Cincin pirol merupakan ciri dari alkaloid pirolidin menyerupai cincin asam amino prolin. Contohnya higrin pada tumbuhan Erythtroxylon coca.

     Alkaloid pirolidin pada dasarnya berasal dari asam amino yang disebut ornithine. Gugus asam amino ini terdiri dari alkaloid tropane, atropin, hyoscine dan hyoscyamine dari keluarga nightshade. Misalnya, keluarga nightshade termasuk semacam tumbuhan, belladonna, datura (Thornapple), dan pahit. Bertindak sebagai gugus alkaloid ini menghambat aktivitas saraf parasimpatis (Berasal dari bagian bawah tulang belakang dan batang otak, merangsang sekresi pencernaan, menentang fisiologis efek dari sistem saraf simpatik, mengkonstriksi biji mata, memperlambat jantung, melebarkan pembuluh darah). Kebetulan, alkaloid pirolidin juga terdiri 'obat kebenaran' skopolamin (juga dikenal sebagai hyoscine) dan kokain. 



    Hubungan struktur-aktivitas (SAR) yang menargetkan kelompok pyrrolidine dan palmitoylrantai palmitoylpyrrolidine, dan mengungkapkan dua mikromolar Penghambat NAAA kuat 1a dan 1b dengan linker yang dioptimalkan panjangnya. 27 Dalam penelitian ini, kami memodifikasi lebih lanjut linkerrantai dan kelompok fenil terminal 1a dan 1b untuk mendapatkan lebih banyak inhibitor NAAA yang kuat dan selektif. Dari ukuran, bentuk dan persyaratan lipofilik dari terminalcincin fenil dan rantai penghubung untuk penghambatan NAAA yang kuat, dan juga mengevaluasi mekanisme selektivitas, stabilitas dan penghambatan. Mekanisme yang terbaik di antara senyawa baru ini. Beberapa po-Penghambat NAAA tenda, termasuk 3j , 4a dan 4g , diidentifikasi. Salah satu penghambat paling ampuh, 4g , menunjukkan media PPAR-αaktivitas anti-inflamasi dalam model ALI yang diinduksi LPS dan memungkinkan agen baru untuk pengobatan inflamasi-penyakit terkait. N -Acylethanolamine acid amidase (NAAA) adalah salah satu enzim kunci yang terlibat dalam degradasi lemak. Acid ethanolamides (FAEs), terutama untuk palmitoylethanolamide (PEA). Penyumbatan farmakologis NAAA mengembalikan tingkat PEA, memberikan manfaat terapeutik dalam pengelolaan peradangan dan nyeri. Di saat ini pekerjaan sewa, studi hubungan struktur-aktivitas (SAR) untuk turunan pyrrolidine amide sebagai Penghambat NAAA. Serangkaian pengganti atau substituen aromatik untuk gugus fenil terminalpyrrolidine amides diperiksa. Data SAR menunjukkan bahwa substituen 3-fenil lipofilik kecil lebih disukai untuk potensi optimal. Linker yang fleksibel secara konformasional meningkatkan potensi penghambatan turunan pyrrolidine amide tetapi mengurangi selektivitasnya terhadap fatty acid amide hydrolase (FAAH). SAR studi menunjukkan bahwa substituen atau pengembalian aromatik penempatan untuk kelompok fenil terminal dapat secara signifikan mempengaruhi aktivitas inhibitor. 

Video terkait :

https://youtu.be/ypbpi27FYOw


PERMASALAHAN :

1. Keragaman Alkaloid Pirolidin yang menakjubkan dapat dicapai dengan hidroksilasi dan desaturasi basa nekin dan asam nekat serta kombinasinya menjadi Alkaloid Pirolidin. Dan Alkaloid Pirolidin ini juga dapat mengalami dimodifikasi. Nah, Bagaimana proses modifikasi senyawa-senyawa Alkaloid Pirolidin ini ?

Minggu, 08 November 2020

SAR ALKANOID QUINOLIN

     Alkaloid kuinolin merupakan senyawa kimia alami dari kelompok alkaloid, yang secara kimiawi berasal dari kuinolin. Quinoline atau 1-aza-napthalene atau benzo [b] pyridine adalah nitrogen yang mengandung senyawa aromatik heterosiklik. Dan memiliki rumus molekul C9H7N.

Quinoline adalah basa tersier lemah. Itu dapat membentuk garam dengan asam dan menunjukkan reaksi yang mirip dengan itu dari piridin dan benzena. Ini menunjukkan elektrofilik dan inti-reaksi substitusi ophilic. Ini tidak beracun bagi manusia secara oral penyerapan dan penghirupan. Inti quinoline terjadi di beberapa senyawa alami (Cinchona Alkaloids) dan zat aktif secara farmakologis menampilkan berbagai aktivitas biologis. Quinoline memiliki telah ditemukan memiliki antimalaria, anti bakteri, antijamur, anthelmintik, kardiotonik, antikonvulsan, anti-inflamasi, dan aktivitas analgesik.


Aktivitas biologis

1. Antimalaria

    Penggunaan terpenting dari cincin kuinolin adalah antimalarialnya potensi. Bisquinolines [26, 27] yang dikembangkan oleh Raynes et al. (1996) ditemukan memiliki tingkat antimalaria yang baik aktivitas melawan parasit yang resisten terhadap klorokuin dan klorokuin. Analoginya dari ferrochloroquine [28] adalah juga ditemukan memiliki aktivitas antimalaria oleh Chibale et al. (2000). Dalam analogi ini, rantai karbon klorokuin digantikan oleh gugus ferosenil hidrofobik. 7 chloroquinolinyl thioureas [29, 30] tertentu yang disintesis oleh Mahajan et al. (2007) adalah agen antimalaria potensial. Modapa dkk. (2009) mensintesis beberapa ureido-4-quinolinamides [31] yang menunjukkan efek antimalaria pada MIC terhadap 0,25 mg / mL strain Plasmodium falciparum yang sensitif terhadap klorokuin. Turunan kloroquinolil [32] yang dikembangkan oleh Kovi et al. (2009) juga memiliki aktivitas antimalaria yang kuat di tingkat submikromolar. Triazina 4-aminoquinoline [33] tertentu disintesis oleh Kumar dkk. (2008) juga memiliki aktivitas antimalaria yang diskrining chloroquinine (CQ) strain sensitif 3D7 dari P. falciparum in model in vitro. Shiraki dkk. (2011) mengembangkan 5-aryl-8-aminoquinolines  [34] dengan antimalaria yang menjanjikan aktivitas yang memiliki aktivitas hemolitik lebih rendah dibandingkan dengan tafenoquine. Acharya dkk. (2008) mensintesis dan mengevaluasi aktivitas antimalaria dari beberapa hibrida piridin-kuinolin [35-37] terhadap strain P. falciparum yang rentan terhadap klorokuin. Singh dkk. (2011) mengembangkan agen antimalaria dengan cincin 4-anilinoquinoline [38]. Senyawa tersebut menunjukkan aktivitas yang baik juga terhadap strain P. falciparum yang sensitif terhadap klorokuin terhadap parasit malaria hewan pengerat P. yoeii.





2. Antibakteri 

    Dalam mensintesis fenoksi, fenilti dan benzil- oxy mensubstitusi kuinolon [56] dengan cukup banyak anti-bakteri aktivitas terial. Sanchez dkk. (1988) mengembangkan 8- asam karboksilat kuinolin tersubstitusi  [57] dengan anti bakteri aktivitas. Upadhayaya dkk. (2009) mengembangkan quinoline deriva- tives [58] melalui teknik pemodelan molekul yang ditemukan aktif melawan Mycobacterium tuberculosis H37Rv regangan. Ini adalah turunan dari 3-benzil-6-bromo-2-metoksi kuinolin. De Souza dkk. (2009) mengembangkan 7-chloro quino- turunan [59] baris efektif melawan tuber yang resistan terhadap berbagai obat- culosis. Lilienkampf dkk. (2009) mengembangkan berbasis quinoline senyawa yang mengandung isoksazol [60] yang mengandung rantai samping ac- tive melawan Mycobacterium tuberculosis. Beberapa novel anti- tubercular quinolines [61] telah dikembangkan oleh Eswaran dkk. (2010) menggunakan mefloquine sebagai lead, dimana macophores yaitu. hidrazon, urea, tiourea dan pirazol telah terpasang di posisi ke-4.


3. Aktivitas anti-inflamasi 

    2- (Furan-2-yl) -4-phenoxy-quinoline [43, 44] pengembangan turunan- dipilih oleh Chen et al. (2006) ditemukan sebagai penghambat lyso- pelepasan zyme dan b-glukuronidase. Baba dkk. (1996) dikembangkan turunan quinoline [45] dengan efek anti-inflamasi yang kuat dalam model tikus artritis adjuvan. Turunan quinoline [46, 47] tertentu telah dikembangkan untuk mengobati osteoartritis oleh Gil- bert et al. (2008). Ini adalah inhibitor amino-acetamide dari Aggrecanase-2.


Video terkait :

https://youtu.be/MkennYyX0cs


PERMASALAHAN :

1. Penggunaan terpenting dari cincin kuinolin adalah sebagai potensi antimalaria. Bisquinolines yang ditemukan memiliki tingkat antimalaria yang baik aktivitas melawan parasit yang resisten terhadap klorokuin dan klorokuin. Selain Bisquinolin, senyawa 4-aminoquinolines juga dapat digunakan sebagai Obat Antimalaria. Bagaimana aktivitas biologis dari 4-aminoquinolin ini sebagai obat antimalaria ?


Senin, 02 November 2020

SAR FLAVONOID TERPRENILASI PART II

 Flavonoid merupakan senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dia cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan 3 jenis struktur, yaitu 1,3-diarilpropan (flavonoid), 1,2-diarilpropan (isoflavonoid), dan 1,1-diarilpropan (neoflavonoid). 



Ciri Struktur Flavonoid



1. Reaksi - Reaksi Flavonoid

   a) Reaksi Flavon dan Flavonol

     Flavon dan flavonol adalah jenis flavonoid yang sering ditemukan di alam, flavon mempunyai struktur dari 2 -fenilbenzofiran-4-on, sedangkan flavonol dapat dianggap 3- hidroksiflavon :

Oleh karena flavon adalah juga benzopiranon, maka flavon dan flavonol dengan asam mineral menghasilkan garam benzopirilium yang berwarna yang disebut juga  garam flavilium. Garam ini bila diperlakukan dengan basa menghasilkan kembali  senyawa flavon semula.  Dengan adanya gugus hidroksil (metoksil) pada posisi 5,7 atau 4’ yang mampu  menampung muatan positif pada posisi-posisi ini, maka struktur ini yang terlibat dalam  resonansi dari garam flavilium akan bertambah. Dengan perkataan lain, dengan adanya  gugus hidroksil (metoksil) pada posisi tersebut, maka ion flavilium menjadi lebih stabil,  yang berrarti pula bahwa kebasaan flavon tersebut akan bertambah. Adapun contoh terbentuknya garam flavilium adalah :

Flavon dan Flavonol dapat pula melakukan reaksi yang sejenin dengan y-piron. Bila flavon atau flavonol direduksi menjadi senyawa 4-hidroksi yang sebanding, selanjutnya diperlakukan dengan asam mineral, dihasilkan garam flavilium atau antosianidin. Misalnya 5-metilkuersetin bila direaksikan dengan litium aluminium hidrida  maka akan dihasilkan sianidin 5-metil eter seperti yang ditunjukkan berikut ini :

Flavon yang mengandung gugus metoksil atau hidroksil pada posisi 5 bila di panaskan dengan asam yodida akan mengalami demetilasi, diikuti oleh penataan ulang  sebagai akibat terbukanya cincin flavon dan resiklisasi. Proses ini disebut penataan ulang  Wessley-Moser. Selanjutnya, bila cincin B dari flavon mengandung gugus metoksil atau  hidroksil pada posisi 2’, maka penataan ulang W-M dari senyawa flavon ini akan menghasilkan suatu flavon dimana cincin B dari flavon semula akan berubah menjadi  cincin A pada flavon baru, seperti yang ditunjukkan oleh reaksi berikut ini :

Reaksi lainnya dari flavon dan flavonol berkaitan dengan sifat aromatik dari cincin A dan B atu berhubungan dengan substituen pada cincin tersebut. Sifat aromatik  dari cincin A dan B akan jelas terlihat pada senyawa-senyawa flavon yang mengandung  gugus-gugus hidroksil, yang berlaku sebagai fenol terhadap reaksi substitusi elektrofilik.  Bila cincin A dan B mengandung gugus hidroksil maka substitusi pertama-tama akan  terjadi pada cincin ini. Gugus hidroksil pada posisi 3 atau 7 akan mengarahkan substitusi  pada posisi 8, dan substitusi selanjutnya akan menghasilkan falvon dengan substituen  ganda pada posisi 6 dan 8. Sedangkan 5,7-dihidroksiflavon mengalami substitusi ganda  pada posisi 6 dan 8.  

Gugus hidroksil dari suatu hidroksiflavon , seperti lazimnya pada fenol, dapat dimetilasi menggunakan dimetil sulfat dan alkali menghasilkan metil eter. Gugus  hidroksil pada posisi 5, karena membentuk ikatan hidrogen dengan gugus karbonil pada posisi 4, agak sukar dimetilasi. Akan tetapi, metilasi lengkap dari suatu  polihidroksiflavon dapat dilakukan menggunakan dimetil sulfat yang berlebih. Metilasi  dari gugus hidroksil, kecuali gugus hidroksil pada 5, dapat pula dilakukan menggunakan  diazometan (CH2N2). Sebaliknya gugus metoksil dalam molekul metoksil flavon oleh asam yodida  diubah menjadi gugus hidroksil. Namun demikian, pada kondisi reaksi demetilasi ini,  flavon yang mengandung gugus metoksil (atau hidroksil) pada posisi 5 atau 2’ dapat  mengalami penataan ulang Wessley-Moser, seperti uraian sebelumnya. Reaksi-reaksi flavon yang berhubungan dengan cincin-cincin aromatik dan  substituen pada cincin tersebut dari molekul flavon dapat dilihat dalam reaksi-reaksi  berikut ini :

Senyawa-senyawa flavon dan flavonol sebagai turunan 2-fenilkromon, mengalami penguraian oleh basa, misalnya krisin diuraikan oleh NaOH menjadi asam asetat, asam benzoat, floroglusinol dan asetofenon. Begitu pula kuersetin diuraikan oleh KOH  menghasilkan floroglusinol, asam protokatekuat dan y-3,4 trihidroksiasetofenon. Reaksi-reaksi ini sangat berguna untuk manetapkan struktur dari flavon dan flavonol yang  selanjutnya dikukuhkan kembali dengan sintesa senyawa bersangkutan. Adapun reaksi- reaksi flavon dan flavonol dapat dilihat dalam uraian berikut ini :


 b) Reaksi Antosianin dan Antosianidin

   Antosianidin termasuk jenis flavonoid yang utama yang banyak ditemukan di alam dalam bentuk 3 atau 3,5 - glikosida disebut antosianin. Antosianin adalah senyawa-senyawa yang berperan dalam memberikan warna merah, ungu, dan biru pada kelopak  bunga dan buah.  Sebagai glikosida, semua antosianin larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut-pelarut organik. Akan tetapi antosianin dapat diendapkan dari larutannya sebagai garam  timbal yang berwarna biru, yang larut dalam asam asetat glasial menghasilkan warna  merah tua. Selanjutnya dihidrolisa dengan asam menghasilkan antosianidin dan gulanya.  Perbedaan individual antara antosianidin terletak pada tingkat hidroksilasi dari cincin  aromatik. Akan tetapi dari tiga jenis antosianidin yang utama yakni pelargonidin, sianidin  dan delfinidin, semuanya terhidroksilasi pada posisi 3,5 dan 7. Sedangkan perbedaan  individual antara senyawa-senyawa antosianin terletak pada posisi dari gugus glikosil  (residu gula) di dalam molekulnya. Contoh antosianin dan antosianin adalah :

Karakterisasi dari antosianin dapat dilakukan berdasarkan sifat fisik, seperti spektrum serapan, flourosensi dan warna dalam larutan penyangga. Antosianin memperlihatkan sifat amfoter, dimana warna larutan berubah-ubah tergantung pH seperti  terlihat dari contoh berikut :


Perubahan warna dari merah melalui ungu ke biru adalah ciri dari antosianin yang mengandung gugus-gugus hidroksil bebas pada cincin B dan terletak bersebelahan  seperti lazimnya ditemukan pada glikosida dai sianidin dan delfinidin. Oleh karena itu  glikosida dari pelarginidin tidak memperlihatkan perubahan warna yang menyolok.  Fenomena ini dapat digunakan untuk mengenal pola hidroksilasi dari cincin B dari  molekul antosianin yang dipisahkan dari suatu jaringan tumbuhan. Antosianin atau antosianidin diuraikan oleh basa, dimana struktur flavilium putus  pada atom oksigen dari cincin piroksinium, menghasilkan dua fragmen, yaitu  floroglusinol dan turunan asam benzoat. Penguraian ini dapat dilakukan bila antosianin  atau antosianidin dipanaskan dengan larutan barium hidroksida atau Natrium Hidroksida. 

   Antosianin atau antosianidin yang tidak mengandung gugus-gugus hidroksil bebas dan terikat bersebelahan, bereaksi dengan hidrogen peroksida menghasilkan turunan  asam benzoat. Reaksi penguraian oleh hidrogen peroksida ini terjadi karena pemutusan  ikatan antara C-2 dan atom C-3 dari cincin piroksonium, seperti reaksi berikut ini :


Reaksi-reaksi di atas dapat digunakan untuk menetapkan posisi dari gugus-gugus hidroksil pada cincin A maupun cincin B dari molekul antosianin dan antosianidin,  melalui pengenalan dari senyawa-senyawa hasil penguraian tersebut. Dengan demikian,reaksi penguraian ini dapat digunakan pula menetapkan struktur antosianin atau antosianidin yang ditemukan dari suatu jaringan tumbuhan.


2. Flavonoid Terprenilasi 

  Senyawa flavonoid terprenilasi merupakan metabolit sekunder utama yang terdapat dalam genus Artocarpus. Flavonoid yang terdapat dalam genus Artocarpus terdiri dari calkon, flavanon, dan flavon. Cincin B teroksigenasi pada posisi C-4’ atau C-2’, C-4’ atau C-2’, C-4’, C-5’. Sedangkan Intsia merupakan salah satu genus dari famili Leguminosae. Tumbuhan dari genus ini terdiri dari 8 spesies dan tersebat di Afrika bagian timur, Madagaskar sampai Melanesia, Micronesia dan Australia bagian utara. Senyawa golongan flavonoid juga ditemukan dalam gunus Intsia. Flavonoid yang telah diisolasi dari genus Intsia adalah senyawa turunan flavanon, flavanonol, dan flavanol. Cincin B teroksigenasi pada posisi C-4’ atau C-3’, C-4’ atau C-3’, C-4’, C-5’.Pola oksidasi tersebut sesuai dengan asal usul biosistesis flavonoid yang berasal dari gabungan jalur shikimat dan asetat malonat. Flavonoid terprenilasi atau prenylflavonoid adalah sub kelas flavonoid . Mereka tersebar luas di seluruh kerajaan tumbuhan. Beberapa diketahui memiliki sifat fitoestrogenik atau antioksidan . Mereka diberikan dalam daftar adaptogen dalam jamu. Secara kimiawi mereka memiliki gugus prenil yang melekat pada tulang punggung flavonoidnya . Biasanya diasumsikan bahwa penambahan gugus prenil hidrofobik memfasilitasi perlekatan pada membran sel. Prenilasi dapat meningkatkan aktivitas potensial flavonoid aslinya.


Contohnya : 6-Prenylnaringenin, 6-geranylnaringenin, 8-prenylnaringenin dan isoxanthohumol dapat ditemukan dalam hop dan bir. Dari prenylflavonoid, 8-prenylnaringenin adalah fitoestrogen paling ampuh yang diketahui.

a) Prenilflavon

  Senyawa flavon terprenilasi baik oleh gugus isoprenil atau geranil yang telah diisolasi dari tumbuhan Artocarpus cukup banyak. Prenilasi terutama pada cincin A (C6 dan C8) dan  posisi C3. Senyawa flavon terprenilasi hanya pada C6 atau C8 yang telah diisolasi antara lain  sikloartokarpin A (10) oleh Lin [11] dari kayu akar A. heterophyllus. Kijjoa et.al [13]  mengisolasi artokarpesin (11) dari kayu batang A. elasticus. Wang [14] mengisolasi  artocamin C (12) dari akar A. chama, senyawa ini dilaporkan bersifat aktif sebagai antitumor.  Sikloaltilisin (13) yang diisolasi dari bud covers A. altilis oleh Patil [15] dilaporkan bersifat sebagai inhibitor cathepsin.


Senyawa flavon terprenilasi pada C6 atau C8 yang ditemukan memiliki pola Monooksigenasi cincin B pada posisi C-4′ atau dioksigenasi pada C-3′, C-4′ atau C-2′, C-4′. Pembentukan cincin kromen merupakan hal yang biasa terjadi pada senyawa golongan ini.

   Senyawa 3-prenil flavon memiliki pola trioksigenasi pada cincin B dengan posisi C- 2′, C-4′ dan C-5′. Senyawa kelompok ini yang memiliki tingkat oksidasi tertinggi. Banyak senyawa yang telah dilaporkan keberadaannya terutama dalam subgenus Artocarpus. Beberapa diantaranya yang telah berhasil diisolasi antara lain artonin E (14) dari kulit batang  A. scortechinii oleh Ferlinahayati [12], artonin E (14) juga disolasi dari kulit akar A. nobilis oleh Jayasinghe [16]. Artonin V (15) diisolasi dari kulit akar A. altilis oleh Hano [17]. Ko  [18] mengisolasi artelastoheterol (16) dari kulit akar A. elasticus.


b) Oksepinoflavon

         Senyawa dengan kerangka oksepinoflavon berasal dari 3-prenilflavon, dimana gugus prenil mengalami siklisasi oksidatif dengan gugus hidroksi pada C-2′ membentuk cincin segi  tujuh. Senyawa oksepinoflavon yang ditemukan kebanyakan memiliki pola C-2′,C-4′ dioksigenasi pada cincin B. Senyawa dengan struktur oksepinoflavon antara lain artelastinin (17) yang diisolasi dari kayu batang A. elasticus [19]. Artoindonesianin B (18) yang diisolasi dari kulit akar A. champeden oleh Hakim [20] memiliki sifat sitotoksik. Chan [21] dari kulit akar A. communis mengisolasi artocommunol C (19).


c) Prenylnaringenin


Adanya peran penting dari ikatan rangkap C 2 = C 3 berkontribusi pada planaritas molekuler dan konjugasi antara cincin C dan A / B, yang penting untuk penghambatan tumor yang kuat (apigenin vs. naringenin). Untuk mengeksplorasi interaksi antara ikatan ganda C 2 = C 3 dan efek anti kanker, garis sel tumor seperti usus besar sel adenokarsinoma , dan sel kanker payudara MDA-MB-231, telah digunakan untuk analisis mendalam yang melibatkan gen ekspresi. Efek penghambatan tumor yang meningkatkan komparatif sekitar 2, 3-dihydrochrysoeriol dan dihydroisorhamnetin dengan sehubungan dengan rekan tak jenuh dijelaskan lebih lanjut di detail masing-masing 65% dan 82%. Selain itu, lebih besar inhibisi akan terjadi dengan koeksistensi ketidakjenuhan antara C 2 = C 3 dan dua gugus hidroksil dalam cincin B.

Video terkait :

Permasalahan :
1. Beberapa contoh flavonoid terprenilasi yaitu : 6-Prenylnaringenin, 6-geranylnaringenin, 8-prenylnaringenin dan isoxanthohumol dapat ditemukan dalam hop dan bir. Dari prenylflavonoid, 8-prenylnaringenin adalah fitoestrogen paling ampuh yang diketahui. Nah, Mengapa 8-prenyl naringenin diketahui merupakan suatu fitoestrogen paling ampuh ?

Senin, 26 Oktober 2020

SAR FLAVONOID TERPRENILASI

 Flavonoid merupakan senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dia cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan 3 jenis struktur, yaitu 1,3-diarilpropan (flavonoid), 1,2-diarilpropan (isoflavonoid), dan 1,1-diarilpropan (neoflavonoid). 



Ciri Struktur Flavonoid



1. Reaksi - Reaksi Flavonoid

   a) Reaksi Flavon dan Flavonol

     Flavon dan flavonol adalah jenis flavonoid yang sering ditemukan di alam, flavon mempunyai struktur dari 2 -fenilbenzofiran-4-on, sedangkan flavonol dapat dianggap 3- hidroksiflavon :

Oleh karena flavon adalah juga benzopiranon, maka flavon dan flavonol dengan asam mineral menghasilkan garam benzopirilium yang berwarna yang disebut juga  garam flavilium. Garam ini bila diperlakukan dengan basa menghasilkan kembali  senyawa flavon semula.  Dengan adanya gugus hidroksil (metoksil) pada posisi 5,7 atau 4’ yang mampu  menampung muatan positif pada posisi-posisi ini, maka struktur ini yang terlibat dalam  resonansi dari garam flavilium akan bertambah. Dengan perkataan lain, dengan adanya  gugus hidroksil (metoksil) pada posisi tersebut, maka ion flavilium menjadi lebih stabil,  yang berrarti pula bahwa kebasaan flavon tersebut akan bertambah. Adapun contoh terbentuknya garam flavilium adalah :

Flavon dan Flavonol dapat pula melakukan reaksi yang sejenin dengan y-piron. Bila flavon atau flavonol direduksi menjadi senyawa 4-hidroksi yang sebanding, selanjutnya diperlakukan dengan asam mineral, dihasilkan garam flavilium atau antosianidin. Misalnya 5-metilkuersetin bila direaksikan dengan litium aluminium hidrida  maka akan dihasilkan sianidin 5-metil eter seperti yang ditunjukkan berikut ini :

Flavon yang mengandung gugus metoksil atau hidroksil pada posisi 5 bila di panaskan dengan asam yodida akan mengalami demetilasi, diikuti oleh penataan ulang  sebagai akibat terbukanya cincin flavon dan resiklisasi. Proses ini disebut penataan ulang  Wessley-Moser. Selanjutnya, bila cincin B dari flavon mengandung gugus metoksil atau  hidroksil pada posisi 2’, maka penataan ulang W-M dari senyawa flavon ini akan menghasilkan suatu flavon dimana cincin B dari flavon semula akan berubah menjadi  cincin A pada flavon baru, seperti yang ditunjukkan oleh reaksi berikut ini :

Reaksi lainnya dari flavon dan flavonol berkaitan dengan sifat aromatik dari cincin A dan B atu berhubungan dengan substituen pada cincin tersebut. Sifat aromatik  dari cincin A dan B akan jelas terlihat pada senyawa-senyawa flavon yang mengandung  gugus-gugus hidroksil, yang berlaku sebagai fenol terhadap reaksi substitusi elektrofilik.  Bila cincin A dan B mengandung gugus hidroksil maka substitusi pertama-tama akan  terjadi pada cincin ini. Gugus hidroksil pada posisi 3 atau 7 akan mengarahkan substitusi  pada posisi 8, dan substitusi selanjutnya akan menghasilkan falvon dengan substituen  ganda pada posisi 6 dan 8. Sedangkan 5,7-dihidroksiflavon mengalami substitusi ganda  pada posisi 6 dan 8.  

Gugus hidroksil dari suatu hidroksiflavon , seperti lazimnya pada fenol, dapat dimetilasi menggunakan dimetil sulfat dan alkali menghasilkan metil eter. Gugus  hidroksil pada posisi 5, karena membentuk ikatan hidrogen dengan gugus karbonil pada posisi 4, agak sukar dimetilasi. Akan tetapi, metilasi lengkap dari suatu  polihidroksiflavon dapat dilakukan menggunakan dimetil sulfat yang berlebih. Metilasi  dari gugus hidroksil, kecuali gugus hidroksil pada 5, dapat pula dilakukan menggunakan  diazometan (CH2N2). Sebaliknya gugus metoksil dalam molekul metoksil flavon oleh asam yodida  diubah menjadi gugus hidroksil. Namun demikian, pada kondisi reaksi demetilasi ini,  flavon yang mengandung gugus metoksil (atau hidroksil) pada posisi 5 atau 2’ dapat  mengalami penataan ulang Wessley-Moser, seperti uraian sebelumnya. Reaksi-reaksi flavon yang berhubungan dengan cincin-cincin aromatik dan  substituen pada cincin tersebut dari molekul flavon dapat dilihat dalam reaksi-reaksi  berikut ini :

Senyawa-senyawa flavon dan flavonol sebagai turunan 2-fenilkromon, mengalami penguraian oleh basa, misalnya krisin diuraikan oleh NaOH menjadi asam asetat, asam benzoat, floroglusinol dan asetofenon. Begitu pula kuersetin diuraikan oleh KOH  menghasilkan floroglusinol, asam protokatekuat dan y-3,4 trihidroksiasetofenon. Reaksi-reaksi ini sangat berguna untuk manetapkan struktur dari flavon dan flavonol yang  selanjutnya dikukuhkan kembali dengan sintesa senyawa bersangkutan. Adapun reaksi- reaksi flavon dan flavonol dapat dilihat dalam uraian berikut ini :


 b) Reaksi Antosianin dan Antosianidin

   Antosianidin termasuk jenis flavonoid yang utama yang banyak ditemukan di alam dalam bentuk 3 atau 3,5 - glikosida disebut antosianin. Antosianin adalah senyawa-senyawa yang berperan dalam memberikan warna merah, ungu, dan biru pada kelopak  bunga dan buah.  Sebagai glikosida, semua antosianin larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut-pelarut organik. Akan tetapi antosianin dapat diendapkan dari larutannya sebagai garam  timbal yang berwarna biru, yang larut dalam asam asetat glasial menghasilkan warna  merah tua. Selanjutnya dihidrolisa dengan asam menghasilkan antosianidin dan gulanya.  Perbedaan individual antara antosianidin terletak pada tingkat hidroksilasi dari cincin  aromatik. Akan tetapi dari tiga jenis antosianidin yang utama yakni pelargonidin, sianidin  dan delfinidin, semuanya terhidroksilasi pada posisi 3,5 dan 7. Sedangkan perbedaan  individual antara senyawa-senyawa antosianin terletak pada posisi dari gugus glikosil  (residu gula) di dalam molekulnya. Contoh antosianin dan antosianin adalah :

Karakterisasi dari antosianin dapat dilakukan berdasarkan sifat fisik, seperti spektrum serapan, flourosensi dan warna dalam larutan penyangga. Antosianin memperlihatkan sifat amfoter, dimana warna larutan berubah-ubah tergantung pH seperti  terlihat dari contoh berikut :


Perubahan warna dari merah melalui ungu ke biru adalah ciri dari antosianin yang mengandung gugus-gugus hidroksil bebas pada cincin B dan terletak bersebelahan  seperti lazimnya ditemukan pada glikosida dai sianidin dan delfinidin. Oleh karena itu  glikosida dari pelarginidin tidak memperlihatkan perubahan warna yang menyolok.  Fenomena ini dapat digunakan untuk mengenal pola hidroksilasi dari cincin B dari  molekul antosianin yang dipisahkan dari suatu jaringan tumbuhan. Antosianin atau antosianidin diuraikan oleh basa, dimana struktur flavilium putus  pada atom oksigen dari cincin piroksinium, menghasilkan dua fragmen, yaitu  floroglusinol dan turunan asam benzoat. Penguraian ini dapat dilakukan bila antosianin  atau antosianidin dipanaskan dengan larutan barium hidroksida atau Natrium Hidroksida. 

   Antosianin atau antosianidin yang tidak mengandung gugus-gugus hidroksil bebas dan terikat bersebelahan, bereaksi dengan hidrogen peroksida menghasilkan turunan  asam benzoat. Reaksi penguraian oleh hidrogen peroksida ini terjadi karena pemutusan  ikatan antara C-2 dan atom C-3 dari cincin piroksonium, seperti reaksi berikut ini :


Reaksi-reaksi di atas dapat digunakan untuk menetapkan posisi dari gugus-gugus hidroksil pada cincin A maupun cincin B dari molekul antosianin dan antosianidin,  melalui pengenalan dari senyawa-senyawa hasil penguraian tersebut. Dengan demikian,reaksi penguraian ini dapat digunakan pula menetapkan struktur antosianin atau antosianidin yang ditemukan dari suatu jaringan tumbuhan.


2. Flavonoid Terprenilasi 

  Senyawa flavonoid terprenilasi merupakan metabolit sekunder utama yang terdapat dalam genus Artocarpus. Flavonoid yang terdapat dalam genus Artocarpus terdiri dari calkon, flavanon, dan flavon. Cincin B teroksigenasi pada posisi C-4’ atau C-2’, C-4’ atau C-2’, C-4’, C-5’. Sedangkan Intsia merupakan salah satu genus dari famili Leguminosae. Tumbuhan dari genus ini terdiri dari 8 spesies dan tersebat di Afrika bagian timur, Madagaskar sampai Melanesia, Micronesia dan Australia bagian utara. Senyawa golongan flavonoid juga ditemukan dalam gunus Intsia. Flavonoid yang telah diisolasi dari genus Intsia adalah senyawa turunan flavanon, flavanonol, dan flavanol. Cincin B teroksigenasi pada posisi C-4’ atau C-3’, C-4’ atau C-3’, C-4’, C-5’.Pola oksidasi tersebut sesuai dengan asal usul biosistesis flavonoid yang berasal dari gabungan jalur shikimat dan asetat malonat.

a) Prenilflavon

  Senyawa flavon terprenilasi baik oleh gugus isoprenil atau geranil yang telah diisolasi dari tumbuhan Artocarpus cukup banyak. Prenilasi terutama pada cincin A (C6 dan C8) dan  posisi C3. Senyawa flavon terprenilasi hanya pada C6 atau C8 yang telah diisolasi antara lain  sikloartokarpin A (10) oleh Lin [11] dari kayu akar A. heterophyllus. Kijjoa et.al [13]  mengisolasi artokarpesin (11) dari kayu batang A. elasticus. Wang [14] mengisolasi  artocamin C (12) dari akar A. chama, senyawa ini dilaporkan bersifat aktif sebagai antitumor.  Sikloaltilisin (13) yang diisolasi dari bud covers A. altilis oleh Patil [15] dilaporkan bersifat sebagai inhibitor cathepsin.


Senyawa flavon terprenilasi pada C6 atau C8 yang ditemukan memiliki pola Monooksigenasi cincin B pada posisi C-4′ atau dioksigenasi pada C-3′, C-4′ atau C-2′, C-4′. Pembentukan cincin kromen merupakan hal yang biasa terjadi pada senyawa golongan ini.

   Senyawa 3-prenil flavon memiliki pola trioksigenasi pada cincin B dengan posisi C- 2′, C-4′ dan C-5′. Senyawa kelompok ini yang memiliki tingkat oksidasi tertinggi. Banyak senyawa yang telah dilaporkan keberadaannya terutama dalam subgenus Artocarpus. Beberapa diantaranya yang telah berhasil diisolasi antara lain artonin E (14) dari kulit batang  A. scortechinii oleh Ferlinahayati [12], artonin E (14) juga disolasi dari kulit akar A. nobilis oleh Jayasinghe [16]. Artonin V (15) diisolasi dari kulit akar A. altilis oleh Hano [17]. Ko  [18] mengisolasi artelastoheterol (16) dari kulit akar A. elasticus.


b) Oksepinoflavon

         Senyawa dengan kerangka oksepinoflavon berasal dari 3-prenilflavon, dimana gugus prenil mengalami siklisasi oksidatif dengan gugus hidoksi pada C-2′ membentuk cincin segi  tujuh. Senyawa oksepinoflavon yang ditemukan kebanyakan memiliki pola C-2′,C-4′ dioksigenasi pada cincin B. Senyawa dengan struktur oksepinoflavon antara lain artelastinin (17) yang diisolasi dari kayu batang A. elasticus [19]. Artoindonesianin B (18) yang diisolasi dari kulit akar A. champeden oleh Hakim [20] memiliki sifat sitotoksik. Chan [21] dari kulit akar A. communis mengisolasi artocommunol C (19).


video terkait :

https://youtu.be/xib_ZintQZA


PERMASALAHAN :

1. Pada blog saya dituliskan bahwa Senyawa 3-prenil flavon yang lain yaitu dengan pola oksigenasi pada C2′,C4′ dan C5′ memiliki tingkat oksidasi tertinggi. Nah, Mengapa senyawa 3-prenil flavon memiliki tingkat oksidasi tertinggi diantara kelompok Prenilflavon yang lain ?

SENYAWA TURUNAN STEROID

Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh dengan 17 atom karbon dan 4 cincin. Senyawa yang termasu...